NonTon OnliNe

Image Hosted by PicturePush - Photo Sharing
Klik di Sini >>> FREE DOWNLOAD FILM / MOVIE <<< Klik di Sini
widgeo.net
Aplikasi DOWNLOAD di Blog ini di Dukung Oleh IDWS, SUBSCENE , ZIDDU ,SCRIBD dan LINKBUCKS.


Selasa, 20 April 2010

Mayura Park (Mataram, Lombok)



Berkunjung ke Provinsi Nusa Tenggara Barat akan semakin lengkap bila anda menyempatkan diri mampir ke Taman Air Mayura. Mayura adalah paduan unik dan khas dari konsep taman, kolam serta pura ibadah. Bangunan yang masih kental dengan corak Bali, Jawa dan Lombok ini dibangun pada masa ketika Kerajaan Bali masih berkuasa di Pulau Lombok, tepatnya pada tahun 1744 M. oleh Raja A.A. Made Karangasem. Bangunan ini pada awalnya bernama Taman Istana Kelepug. Nama tersebut diambil dari suara yang muncul (kelepug-kelepug) karena derasnya air yang keluar dari mata air di tengah kolam dalam taman tersebut.

Pada masa Kerajaan Mataram, taman ini mengalami proses renovasi sekitar tahun 1866 yang dititahkan langsung oleh Raja A.A. Ngurah Karangasem. Tidak hanya bangunan fisik, nama Istana Kelepugpun diganti menjadi Istana Mayura. Kata “mayura” sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti burung merak. Konon, pada masa Raja A.A. Ngurah Karangasem, banyak ular berkeliaran di taman Istana sehingga mengganggu aktivitas kerajaan. Beberapa penasehat menyarankan agar di sekitar taman ini dipelihara burung merak yang suka memangsa ular sehingga Istana menjadi aman.
Letaknya yang strategis serta nilai sejarah yang banyak terkandung di dalamnya menjadikan lokasi wisata ini sering dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Keistimewaan
Bangunan bersejarah ini menawarkan perpaduan suasana antara nuansa alam, atmosfer religius dan sejarah. Ketika anda memasuki lokasi ini, kesan pertama yang muncul adalah kesan bangunan taman yang mampu menghadirkan kedamaian natural. Istana ini dilengkapi dengan kolam yang ditata sedemikian rupa sehingga tampak bagaikan sebuah taman yang asri. Di tengah kolam berdiri sebuah bangunan yang disebut “Bale Kambang”. Ada yang menyebutnya gili (dalam bahasa lokal bermakna pulau kecil) karena keberadaannya di tengah-tengah kolam yang menyerupai pulau kecil di tengah samudera. Di dalam komplek ini banyak sekali dijumpai pohon manggis berderet rapi yang menambah kesejukan hawa udara di taman. Jika anda beruntung, pemandu wisata akan memperbolehkan anda untuk memetik beberapa buah manggis.

Beberapa bangunan yang bercirikan Bali serta paduan antara pengaruh Jawa dan Lombok menjadikan Mayura sangat bernuansa religius. Bahkan, menurut penjaga Taman ini, roh utama taman ini adalah sebuah pura yang terletak di hulu kolam. Namun karena luasnya taman, deretan pohon manggis, kolam yang lebar serta letak pura yang di ujung, menjadikan pura ini selalu terlewatkan dari perhatian para pengunjung. Pura tersebut masih menggunakan namanya yang lama “Kelepug” untuk mengingatkan akan nama asli lokasi ini. Dalam beberapa ritual khusus, pura ini masih tetap difungsikan sebagai tempat pemujaan para dewa.

Jika anda berkunjung ke lokasi ini, anda akan ditemani seorang guide yang banyak bercerita tentang hal-ihwal sejarah Mayura. Diantara hal yang menarik dalam sejarah pembangunan beberapa bagian taman ini adalah patung batu manusia yang berwajah Asia Barat. Menurut sejarah, patung ini dibuat sebagai tanda terima kasih Raja kepada orang Asia Barat itu karena telah memberikan idenya supaya mengembangbiakkan merak untuk mengusir ular. Selain itu, sejarah pendirian bangunan yang berada di tengah kolam (bale kambang) layak untuk anda simak. Konon, bangunan ini didirikan setelah adanya desakan masyarakat pada saat itu untuk memperoleh keadilan. Pada zaman Rad Kerta, pengadilan terhadap orang yang berperkara biasanya disidangkan di Bale Kambang. Masih banyak lagi hal-hal berkaitan dengan sejarah lainnya yang akan membuat anda kagum akan konsep pembangunan taman ini.

Lokasi

Taman ini terletak di pusat bisnis, tepatnya di Kecamatan Cakranagera, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia.

Akses

Menuju Pura Mayura membutuhkan perjalanan sekitar 15 menit dari kecamatan Narmada (tempat pemberhentian kendaraan umum). Perjalanan dapat ditempuh menggunakan angkot dengan tarif Rp. 5000,- atau menggunakan taksi dengan tarif Rp. 15.000,-. Namun bila perjalanan dimulai dari Ibukota Mataram, perjalanan hanya ditempuh selama 10 menit dengan naik angkot dengan tarif Rp. 2.500,- atau menggunakan taksi Rp 10.000,-.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Harga tiket yang anda bayar untuk masuk lokasi wisata ini sudah termasuk dengan biaya guide yang akan memandu anda memahami konsep serta sejarah bangunan Istana Mayura. Biasanya, mereka akan mengajak anda berkeliling sekitar 15 menit, selebihnya anda akan dipersilahkan menikmati sendiri suasana Mayura.
Berkaitan dengan tempat penginapan, karena letaknya yang berada di kawasan bisnis, banyak sekali hotel dan restaurant di sekitar kawasan wisata sejarah ini. Bahkan, bagi anda pencinta masakan lokal, banyak warung makan sederhana di sekitar Mayura yang menawarkan masakan khas lombok seperti Pelecing.
(Ahmad Baihaqie/wm/06/02-08)
www.wisatamelayu.com

(IN ENGLISH)


Visiting the West Nusa Tenggara Province will be more complete if you took time to stop by the Mayura Water Park. Mayura is a unique and distinctive blend of the concept of the park, ponds and temples of worship. The building is still strong with shades Bali, Java and Lombok is built in a time when the kingdom of Bali was still in power on the island of Lombok, precisely in the year 1744 AD King A.A. Made Karangasem. The building was originally named the Garden Palace Kelepug. The name is taken from the sound that appears (kelepug-kelepug) for pouring water from a spring in the middle of the pond in the park.
At the time of the Mataram Kingdom, the park underwent a renovation process around the year 1866 which decreed by the King AA Ngurah Karangasem. Not only the physical building, the name was changed to Kelepugpun Palace Mayura Palace. The word 'Mayura' is derived from Sanskrit which means peacock. It is said that at the time of King A.A. Ngurah Karangasem, a lot of snakes around the park so disturbing activities Palace kingdom. Some advisers suggested that around the park are maintained peacock like a snake that preys on the Palace to be safe.
The strategic location and historical value that it contains a lot of tourist sites makes this often visited by tourists both local and foreign tourists.

Privileges

This historic building offers a mix of atmosphere between the nuances of nature, religious and historical atmosphere. When you enter this location, the first impression that emerges is the impression that the park buildings could bring natural peace. This palace is equipped with a pool so arranged that it looked like a beautiful garden. In the middle of the pond stood a building called "Bale Kambang". There was a call dyke (in local language means small island) because of its presence in the middle of the pond that resembles a small island in the middle of the ocean. In the complex has encountered a lot of mangosteen trees that lined up to add air coolness of the air in the park. If you are lucky, the guide will allow you to pick some fruit mangosteen.
Some buildings are characterized by the combination of Balinese and Javanese and Lombok influence makes a very nuanced religious Mayura. In fact, according to this park guards, the main spirit of this park is a temple located in the upper pond. But because of the extent of the park, mangosteen trees, large pond and the location of the temple at the end, making this temple always miss the attention of visitors. Temple is still using the old name "Kelepug" for a reminder of the original name of this location. In some special rituals, this temple still functioned as a place of worship of the gods.
If you visit this site, you will be accompanied by a guide that much about historical things Mayura. Among the interesting thing in the history of the development of some parts of this park is a stone-faced man of West Asia. Historically, this statue was made as a gesture of thanks to the King of Western Asia for giving the idea to breed the peacock to drive the snake. In addition, the history of new building in the middle of the pond (bale Kambang) feasible for you refer. It is said that this building was established after the insistence society at that time to obtain justice. On Rad Kerta period, the trial of a litigant is usually heard in Bale Kambang. There are many other things related to other history that will make you amazed at this park development concept.

Location

This park is located in the business center, exactly in Cakranagera District, Mataram, West Nusa Tenggara Province, Indonesia.

Access

Mayura Temple Towards the trip takes about 15 minutes from the Narmada district (where the public transport stops). The trip can be done using angkot rate Rp. 5000, - or use a taxi with a fare Rp. 15.000, -. But if the journey starts from the capital Mataram, the trip is only for 10 minutes followed by up angkot rate Rp. 2500, - or use a taxi Rp 10.000, -.

Accommodation and Other Facilities

Ticket prices you pay to enter the location of this tour includes a guide fee that will guide you to understand the concept and history of the building Mayura Palace. Usually, they will take you around about 15 minutes, the rest you will be asked to enjoy themselves Mayura atmosphere.
Associated with the inn, because it lies in the business area, many hotels and restaurants around the area of this historical tour. In fact, for you lovers of local cuisine, many simple diner around Mayura which offers cuisine as Pelecing chilli.

0 komentar:

Posting Komentar

Komenmu Kritikku

 

Ez-Laptop

Easy Blog Trick

Pembayaran Per Klik

© 3 Columns Newspaper Copyright by RameRame.Com | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks